Hama Misterius Serang Ratusan Hektare

5 May 2010

MOJOKERTO - Musim panen padi bagi kalangan petani di Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto dirasakan dengan pahit. Hama misterius berbentuk ulat kecil dan warna kemerahan menyerang batang padi jenis mambramu siap panen milik mereka. Akibatnya, petani mengalami gagal panen atau penurunan pendapatan dari tahun sebelumnya, sebesar 30 persen.

Dikatakan Ikwan Nur, petani asal Desa Warugunung, hama misterius yang belakangan menyerang lahan pertanian milik petani terjadi sejak awal bulan April lalu. ”Tidak sedikit batang padi milik kami yang siap panen di dalamnya terdapat ulat-ulat berukuran kecil,” ujarnya.

Cara menyerang hama ulat kecil berwarna kuning keputih-putihan itu, biasa melalui batang padi. Meski tidak diketahui bagaimana cara masuk ke dalam batang, ulat berukuran antara 1 hingga 2 sentimeter itu biasa bersembunyi di dalam dan memakan batang. ”Biasanya sasaran batang yang sudah berbuah padi. Kalau ulat itu ada di dalamnya, berarti pertumbuhan padi kami tidak sehat,” jelasnya.

Selain menghambat pertumbuhan, ulat yang hingga kini belum diketahui jenisnya biasa memotong leher padi. Atau biasa disebut dengan tangkai yang memisahkan antara batang dengan buah. ”Jika sedang menggerogoti, ulat-ulat itu selalu memotong leher tangkai. Makanya, padi-padi yang rencananya dipanen lantas jadi gabuk (gabah tak berisi, Red),” jelasnya.

Mengetahui hama misterius yang menyerang itu, sebenarnya petani sudah berupaya melakukan pembasmian. Diantaranya dengan semprot hama dan pemberantasan ulat. Tapi, karena peredaran hama cukup cepat, petani akhirnya tidak mampu berbuat banyak. ”Jika terus dilakukan seperti kami yang akan rugi sendiri. Secara otomatis biaya produksi kami membengkak,” tukas Ikhwan.

Senada juga disampaikan Khomsum Ma’arif, petani sekaligus anggota Koperasi Tani Al-Barokah Desa Warugunung. Disamping hama ulat, lahan pertanian miliknya juga diserang hama berbentuk warna kemerah-merahan, atau biasa disebut petani dengan hama “bang”.

Hama yang juga merusak padi jenis membramu itu, terjadi pada pertengahan bulan April lalu. Tepatnya, saat masa tanam kedua. ”Padi yang diserang hama bang juga rata-rata varites membramu yang baru tanam,” katanya. Karena tidak mengetahui asal muasal penyebab hama, petani sendiri mengaku kebingungan untuk membasmi.

Termasuk kesulitan mengakses Dinas Pertanian atau Petugas Penilik Lapangan (PPL) di Kecamatan Pacet. ”Selama diserang hama bang kita belum tahu bagaimana cara membasminya. Sedangkan, petugas pertanian sendiri sejauh ini belum melakukan penelitian. Sudah mendengar apa belum, kami juga tidak tahu,” imbuhnya.

Akibat kondisi demikian, kalangan petani yang lahan padi miliknya memasuki masa panen memilih untuk tetap memanen. Meski, hasil yang didapat jauh dari harapan semula. Selain banyak gabah padi gabuk, petani hanya bisa menjual gabah kering sawah kepada tengkulak dengan harga Rp 2.100 per kilogram.

Dari harga ideal yang ditentukan Rp 2.400 per kilogram. ”Idealnya biasa mendapat 6-7 ton kini hanya 5 ton per hektare. Artinya penurunan hasil panen kita mencapai 30 persen,” tegasnya.

Pengurus Lembaga Pertanian Nahdlatul Ulama (LPNU), Saiful Anam, mengungkapkan, sejauh ini memang belum ada perhatian apapun dari dinas terkait atas keberadaan hama misterius yang menyerang lahan pertanian. Padahal, lanjut Anam, luas lahan yang gagal panen kai ini diperkirakan mencapai 200 hektare. ”Jika diitung-itung 200 hektare lahan pertanian itu milik sekitar 1.000 petani di Desa Warugunung,” tukasnya.

Memang, belakangan menghadapi dua hama misterius itu, jelas Anam, petani kebingungan mencari solusi. Teruma dalam hal pembasmian. Alasannya, tidak mengetahui jenis hama yang ada. Sehingga mereka kesulitan menentukan obat yang digunakan untuk membasmi.

”Yang lebih parah momentum musim hujan dan hama ini akan dimanfaatkan para tengkulak membeli gabah petani dengan harga murah. Alasannya, karena kualitas gabah panen cukup jelek,” bebernya.

Dengan begitu, pihaknya berharap, agar tidak semakin merugikan kalangan petani, Dinas Pertanian dan PPL di tingkat kecamatan segera turun tangan. Selain meneliti hama yang ada, mereka diminta untuk memberikan solusi. ”Hanya itu yang kami harapkan. Bila tidak ada yang menyikapi petani tidak tahu lagi harus mau apa. Karena sudah banyak yang mengalami kerugian,” tandasnya. (ris/yr) (jawapos.co.id)


TAGS Berita Mojokerto


-

Author

Follow Me