Sudah ada Pusat Laptop Mojokerto

Kini sudah ada Pusat Laptop Mojokerto. Ya minimal bisa membatu warga masyarakat mojokerto dan sekitarnya untuk lebih mudah mencari laptop atau notebook baik baru atau terutama second / bekas.

Kapanpun anda bisa upgrade harga atau sekedar membandingkan harga2.  Sekalipun anda tidak berminat, mungkin bisa jadi pengetahuan harga murah dan yang mahal. Yang penasaran, Silahkan kunjungi blog http://laptopmojokerto.blogspot.com.

semoga info ini bisa membantu anda!!

Comments

Hama Misterius Serang Ratusan Hektare

MOJOKERTO - Musim panen padi bagi kalangan petani di Desa Warugunung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto dirasakan dengan pahit. Hama misterius berbentuk ulat kecil dan warna kemerahan menyerang batang padi jenis mambramu siap panen milik mereka. Akibatnya, petani mengalami gagal panen atau penurunan pendapatan dari tahun sebelumnya, sebesar 30 persen.

Dikatakan Ikwan Nur, petani asal Desa Warugunung, hama misterius yang belakangan menyerang lahan pertanian milik petani terjadi sejak awal bulan April lalu. ”Tidak sedikit batang padi milik kami yang siap panen di dalamnya terdapat ulat-ulat berukuran kecil,” ujarnya.

Cara menyerang hama ulat kecil berwarna kuning keputih-putihan itu, biasa melalui batang padi. Meski tidak diketahui bagaimana cara masuk ke dalam batang, ulat berukuran antara 1 hingga 2 sentimeter itu biasa bersembunyi di dalam dan memakan batang. ”Biasanya sasaran batang yang sudah berbuah padi. Kalau ulat itu ada di dalamnya, berarti pertumbuhan padi kami tidak sehat,” jelasnya.

Selain menghambat pertumbuhan, ulat yang hingga kini belum diketahui jenisnya biasa memotong leher padi. Atau biasa disebut dengan tangkai yang memisahkan antara batang dengan buah. ”Jika sedang menggerogoti, ulat-ulat itu selalu memotong leher tangkai. Makanya, padi-padi yang rencananya dipanen lantas jadi gabuk (gabah tak berisi, Red),” jelasnya.

Mengetahui hama misterius yang menyerang itu, sebenarnya petani sudah berupaya melakukan pembasmian. Diantaranya dengan semprot hama dan pemberantasan ulat. Tapi, karena peredaran hama cukup cepat, petani akhirnya tidak mampu berbuat banyak. ”Jika terus dilakukan seperti kami yang akan rugi sendiri. Secara otomatis biaya produksi kami membengkak,” tukas Ikhwan.

Senada juga disampaikan Khomsum Ma’arif, petani sekaligus anggota Koperasi Tani Al-Barokah Desa Warugunung. Disamping hama ulat, lahan pertanian miliknya juga diserang hama berbentuk warna kemerah-merahan, atau biasa disebut petani dengan hama “bang”.

Hama yang juga merusak padi jenis membramu itu, terjadi pada pertengahan bulan April lalu. Tepatnya, saat masa tanam kedua. ”Padi yang diserang hama bang juga rata-rata varites membramu yang baru tanam,” katanya. Karena tidak mengetahui asal muasal penyebab hama, petani sendiri mengaku kebingungan untuk membasmi.

Termasuk kesulitan mengakses Dinas Pertanian atau Petugas Penilik Lapangan (PPL) di Kecamatan Pacet. ”Selama diserang hama bang kita belum tahu bagaimana cara membasminya. Sedangkan, petugas pertanian sendiri sejauh ini belum melakukan penelitian. Sudah mendengar apa belum, kami juga tidak tahu,” imbuhnya.

Akibat kondisi demikian, kalangan petani yang lahan padi miliknya memasuki masa panen memilih untuk tetap memanen. Meski, hasil yang didapat jauh dari harapan semula. Selain banyak gabah padi gabuk, petani hanya bisa menjual gabah kering sawah kepada tengkulak dengan harga Rp 2.100 per kilogram.

Dari harga ideal yang ditentukan Rp 2.400 per kilogram. ”Idealnya biasa mendapat 6-7 ton kini hanya 5 ton per hektare. Artinya penurunan hasil panen kita mencapai 30 persen,” tegasnya.

Pengurus Lembaga Pertanian Nahdlatul Ulama (LPNU), Saiful Anam, mengungkapkan, sejauh ini memang belum ada perhatian apapun dari dinas terkait atas keberadaan hama misterius yang menyerang lahan pertanian. Padahal, lanjut Anam, luas lahan yang gagal panen kai ini diperkirakan mencapai 200 hektare. ”Jika diitung-itung 200 hektare lahan pertanian itu milik sekitar 1.000 petani di Desa Warugunung,” tukasnya.

Memang, belakangan menghadapi dua hama misterius itu, jelas Anam, petani kebingungan mencari solusi. Teruma dalam hal pembasmian. Alasannya, tidak mengetahui jenis hama yang ada. Sehingga mereka kesulitan menentukan obat yang digunakan untuk membasmi.

”Yang lebih parah momentum musim hujan dan hama ini akan dimanfaatkan para tengkulak membeli gabah petani dengan harga murah. Alasannya, karena kualitas gabah panen cukup jelek,” bebernya.

Dengan begitu, pihaknya berharap, agar tidak semakin merugikan kalangan petani, Dinas Pertanian dan PPL di tingkat kecamatan segera turun tangan. Selain meneliti hama yang ada, mereka diminta untuk memberikan solusi. ”Hanya itu yang kami harapkan. Bila tidak ada yang menyikapi petani tidak tahu lagi harus mau apa. Karena sudah banyak yang mengalami kerugian,” tandasnya. (ris/yr) (jawapos.co.id)

Comments

Hujan, Alun-Alun Mojokerto Tergenang

Hujan, Alun-Alun Mojokerto Tergenang - Menang predikat kota Adipura, Kota Mojokerto rupanya masih belum terbebas dari genangan air dan banjir. Seperti diprediksi sebelumnya, meski hujan tidak berlangsung lama sejumlah titik dan jalan protokol dipastikan tidak akan terbebas dari genangan air.

Setidaknya itu terbukti setelah hujan yang turun selama 1,5 jam kemarin sore. Sejumlah jalan dan lingkungan air tampak menggenang dan mengganggu akses transportasi. Bahkan, wilayah Alun-alun bagian timur kondisi airnya mencapai ketinggian hampir satu meter. Akibatnya, arus lalu-lintas di jalan ini lumpuh. Kendaraan bermotor lebih memilih untuk memutar balik dan menghindari genangan air yang sulit ditembus

Sejumlah titik yang turut digenangi air, diantaranya berada di Jl HOS Cokroaminoto, Jl Majapahit, Kelurahan Magersari, Kelurahan Sentanan, Kelurahan Meri dan Gunung Gedangan, Kelurahan Miji, Kelurahan Mentikan dan Kelurahan Kranggan.

Dari beberapa titik itu, banjir terparah terjadi di dua titik. Yakni di Jl HOS Cokroaminoto. Ketinggian air di sepanjang jalan ini hingga mnencapai hampir satu meter. Akibatnya, jalur ini lumpuh hingga petang kemarin. Beberapa kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang nekat melintas di jalur inipun banyak yang mogok. Debit air yang terus meninggi membuat sejumlah pemilik toko terpaksa menutup jalur dengan menggunakan bangku. Karena selain membahayakan kendaraan bermotor, kendaraan yang melintas mengakibatkan genangan air masuk ke dalam toko. Beberapa pemilik toko juga terpaksa memasang karung di depan toko masing-masing untuk menghindari masuknya air.

Handoko, salah satu pemilik toko mengungkapkan, luapan air yang terjadi kemarin terbilang paling besar selama musim hujan kali ini. Hujan deras sebelumnya, tak menimbulkan genangan setinggi itu. “Airnya sulit surut. Padahal hujannya tak sampai dua jam,” ungkap Handoko.

Kondisi yang sama juga terjadi di Alun-Alun Kota Mojokerto. Di bagian timur, ketinggian air juga mencapai hampir satu meter. Praktis, lalu-lintas di jalan ini lumpuh. Kendaraan bermotor lebih memilih untuk memutar balik untuk menghindari genangan air yang sulit ditembus.

Banjir juga terjadi di Jl Majapahit bagian selatan. Tak hanya itu, air setinggi minimal 30 sentimeter juga menggenangi perumahan warga yang tak jauh dari jalan utama ini. Banjir kali ini terjadi hampir merata di setiap kelurahan, termasuk Kelurahan Sentanan, Kecamatan Magersari yang berdekatan dengan Jl HOS Cokroaminoto. Sebelumnya, banjir ini telah diprediksi banyak pihak. Termasuk anggota DPRD Kota Mojokerto. Banjir dipicu buruknya penataan saluran air di jalan-jalan utama. Proyek pembuatan gorong-gorong raksasa di sepanjang Jl Letkol Sumarjo juga tak banyak membantu mengatasi ancaman banjir.

Anggota Komisi II, Saiful Arsyad mengungkapkan, selain air hujan potensi banjir itu juga dipicu belum maksimalnya fungsi rumah pompa di rumah Dinas Wali Kota di Jl Hayam Wuruk dan Pompa air di Gunung Gedangan. Termasuk gorong-gorong yang juga menjadi sudetan genangan air itu masih belum maksimal bisa mengalirkan genangan air menuju Kali Brantas. “Memang belum maksimal. Sehingga banjir masih sangat berpotensi terjadi di wilayah-wilayah yang menjadi kantung air,” terang Saiful.

Atas kondisi ini, dia lantas mendesak kepada Pemkot Mojokerto untuk segera membenahi drainase dan memfungsikan rumah pompa yang dibangun. Karena menurutnya, masyarakat merasa tak aman jika hujan turun. “Yang lebih penting kemauan pemkot untuk segara membangun sudetan air melalui sungai yang mengitari kawasan kota. Tentunya dengan kerjasama melibatkan Kabupaten Mojokerto dan Sidoarjo. Sebab kami selain mendesak ke depan genangan seperti bisa diatasi,” tandasnya. (ris/nk)

Comments

« Previous entries